Salam Widget

21 September 2011

Soheh Al-Bukhari - 5

Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahawa Abu Sufyan bin Harb bercerita kepadanya, bahawa Heraelius berkirim surat kepada Abu Sufyan menyuruh ia datang ke Syam bersama khalifah saudagar Quraisy. Waktu itu Rasulullah saw. sedang dalam perjanjian damai dengan Abu Sufyan dan dengan orang-orang kafir Quraisy. Mereka datang menghadap Heraelius di Ilia terus masuk ke dalam majlisnya, dihadapi oleh pembesar-pembesar Rumawi. Kemudian Heraelius memanggil orang-orang Quraisy itu beserta Jurubahasanya.

Heraelius berkata, Siapa di antara Anda yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan laki-laki yang mengaku dirinya Nabi itu?" Jawab Abu Sufyan. "Saya ! Saya keluarga terdekat dengannya." Berkata Heraelius (kepada jurubahasanya), "Suruh dekat dekatlah dia kepada ku. Dan suruh pula para sahabatnya duduk di belakangnya." Kemudian berkata Heraelius kepada Jurubahasanya, "Katakan kepada mereka bahawa saya akan bertanya kepada orang ini (Abu Sufyan). Jika dia berdusta, suruhlah mereka mengatakan bahawa dia dusta." Pertanyaannya yang pertama, "Bagaimanakah turunannya di kalanganmu?" Aku jawab, "Dia turunan bangsawan di kalangan kami." Heraelius, "Pernahkah orang lain sebelumnya mengumandangkan apa yang telah dikumandangkannya?" Jawab ku, "Tidak pernah." Heraelius, "Adakah di antara nenek moyangnya yang menjadi raja?" Jawab ku, "Tidak!" Heraelius, "Apakah pengikutnya terdiri dari orang-orang mulia ataukah orang-orang biasa?" Jawab ku, "Hanya terdiri dari orang-orang biasa." Heraelius, "Apakah pengikutnya semakin bertambah atau berkurang?" Heraelius, "Adakah di antara mereka yang murtad, kerana mereka benci kepada agama yang dipeluknya itu?" Jawab ku, "Tidak!" Heraelius, "Apakah kamu menaruh curiga kepadanya dia berdusta sebelum dia mengumandangkan ucapan yang diucapkannya sekarang? Jawab ku, "Tidak!" Heraelius, "Pernahkah dia melanggar janji?" Jawab ku, "Tidak!

Dan sekarang, kami sedang dalam perjanjian damai dengan dia. Kami tidak tahu apa yang akan diperbuatnya dengan perjanjian itu." Kata Abu Sufyan menambahkan, "Tidak dapat aku menambahkan kalimat lain agak sedikit pun selain kalimat itu." Heraelius, "Pernahkah kamu berperang dengannya?" Jawab ku, "Pernah." Heraelius, "Bagaimana peperanganmu itu?" Jawab ku, "Kami kalah dan menang silih berganti. Dikalahkannya kami dan kami kalahkan pula dia." Heraelius, "Apakah yang diperintahkannya kepada kamu sekalian?" Kata Heraelius kepada jurubahasanya, "Katakan kepadanya (Abu Sufyan), saya tanyakan kepada mu tentang turunannya (Muhammad), kamu jawab dia bangsawan tinggi. Begitulah Rasul-rasul yang terdahulu, diutus dari kalangan bangsawan tinggi kaumnya." Saya tanyakan, "Adakah salah seorang di antara kamu yang pernah mengumandangkan ucapan sebagai yang diucapkannya sekarang?" Jawabmu, "Tidak!" Kalau ada seseorang yang pernah, mengumandangkan ucapan yang diucapkannya sekarang, nescaya aku katakan, "Dia meniru-niru ucapan yang diucapkan orang dahulu itu." Saya tanyakan, "Adakah di antara nenek moyangnya yang jadi raja?" Jawabmu, "Tidak ada!" Kalau ada di antara nenek moyangnya yang menjadi raja, nescaya ku katakan, "Dia hendak menuntut kembali kerajaan nenek moyangnya." Saya tanyakan, "Adakah kamu menaruh curiga kepadanya bahawa ia dusta, sebelum ia mengucapkan apa yang diucapkannya sekarang?" Jawabmu, "Tidak!" Saya yakin, dia tidak akan berdusta, terhadap manusia apa lagi kepada Allah. Saya tanyakan, "Apakah pengikutnya terdiri dari orang-orang mulia ataukah orang-orang biasa?" Jawabmu, "Orang-orang biasa." Memang, mereka jugalah yang menjadi pengikut Rasul-rasul. Saya tanyakan, "Apakah pengikutnya makin bertambah banyak atau semakin kurang?" Jawabmu, "Mereka bertambah banyak." Begitulah halnya iman hingga sempurna. Saya tanyakan, "Adakah di antara mereka yang murtad kerana benci kepada agama yang dipeluknya, setelah mereka masuk ke dalamnya?" Kamu jawab, "Tidak." Begitulah iman, apabila ia telah berdarah daging sampai ke jantung hati. Saya tanyakan, "Adakah ia melanggar janji?" Kamu jawab, "Tidak." Begitu jugalah segala Rasul-rasul yang terdahulu, mereka tidak suka melanggar janji. Saya tanyakan, "Apakah yang disuruhkannya kepada kamu sekalian?" Kamu jawab, "Ia menyuruh menyembah Allah semata-mata, dan melarang mempersekutukanNya. Dilarangnya pula menyembah berhala, disuruhnya menegakkan solat, berlaku jujur dan sopan (teguh hati)."

Jika yang kamu terangkan itu betul , semuanya, nescaya dia akan memerintah sampai ke tempat aku berpijak di kedua telapak kaki ku ini. Sesungguhnya aku telah tahu bahawa ia akan lahir. Tetapi aku tidak mengira bahawa dia akan lahir di antara kamu sekalian. Sekiranya aku yakin akan dapat bertemu dengannya, walaupun dengan susah payah aku akan berusaha datang menemuinya. Kalau aku telah berada di dekatnya, akan ku cuci kedua telapak kakinya.

Kemudian Heraelius meminta surat Rasulullah saw. yang diantarkan oleh Dihyah kepada pembesar negeri Bushra, yang kemudian diteruskannya kepada Heraelius. Lalu dibacanya surat itu, yang isinya sebagai berikut: "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, Hamba Allah dan Rasul-Nya. Kepada Heraelius, Kaisar Rumawi. Kesejahteraan kiranya untuk orang yang mengikut petunjuk. Kemudian, sesungguhnya saya mengajak Anda memenuhi panggilan Islam. Islamlah! Pasti Anda selamat. Dan Allah akan memberi pahala Anda dua kali lipat. Tetapi jika anda enggan, nescaya anda menanggung dosa seluruh rakyat.

Hai, Ahli Kitab! Marilah kita dalam satu kalimah prinsip sama antara kita, iaitu supaya tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah, dan jangan mempersekutukan-Nya dengan suatu apa pun. Dan janganlah sebahagian kita menjadikan sebahagian yang lain menjadi Tuhan selain daripada Allah. Apabila Anda enggan menuruti ajakan ini, akuilah bahawa kami ini Muslim! Kata Abu Sufyan, "Selesai ia mengucapkan perkataannya dan membaca surat itu, ruangan menjadi heboh dan hiruk pikuk; kami pun disuruh orang keluar. Sampai di luar, aku berkata kepada kawan. "Sungguh menjadi masalah besar urusan Anak Abu Kabsyah. Sehingga raja bangsa kulit kuning itu pun takut kepadanya. Aku yakin, Muhammad pasti menang hingga oleh kerananya Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku." Ibnu Nathur, pembesar negeri Ilia, sahabat Heraelius dan Uskup(kepala pendeta) Nasrani di Syam, dia menceritakan, "Ketika Heraelius datang ke Ilia, ternyata fikirannya sedang kacau. Oleh sebab itu banyak di antara para pendeta yang berkata: "Kami sangat hairan melihat sikap Anda." Selanjutnya kata Ibnu Nathur, "Heraelius adalah seorang ahli nujum yang selalu memperhatikan perjalanan bintang- bintang. Dia pernah menjawab pertanyaan para pendeta yang bertanya kepadanya. Pada suatu malam ketika saya mengamati perjalanan bintang-bintang, saya melihat Raja Khithan telah lahir. Siapakah di antara umat ini yang telah dikhatan?" Jawab para pendeta itu. "Yang berkhatan hanyalah orang Yahudi. Janganlah Anda risau kerana orang Yahudi itu. Perintahkan saja ke seluruh negeri dalam kerajaan Anda, supaya orang-orang Yahudi di negeri itu dibunuh."

Ketika itu dihadapkan kepada Heraelius seorang utusan Raja Bani Ghassan untuk menceritakan perihal Rasulullah saw. Setelah orang itu selesai bercerita, lalu Heraelius memerintahkan agar dia diperiksa, apakah dia berkhatan atau tidak. Setelah diperiksa, ternyata memang dia berkhatan. Lalu diberitahukan orang kepada Heraelius. Heraelius bertanya kepada orang itu tentang orang-orang Arab lainnya, "Dikhatankah mereka atau tidak?" Jawabnya, "Orang-orang Arab itu dikhatan semuanya." Heraelius berkata, "Inilah raja umat. Sesungguhnya dia telah lahir."

Kemudian Heraelius berkirim surat kepada seorang sahabatnya di Rome, yang ilmunya setaraf dengan Heraelius (menceritakan tentang kelahiran Nabi Muhammad saw.). Dan sementara itu ia meneruskan perjalanannya ke negeri Hims. Tetapi sebelum dia sampai di Hims, balasan surat dari sahabatnya itu telah tiba lebih dahulu. Sahabatnya itu menyetujui pendapat Heraelius bahawa Muhammad telah lahir dan beliau memang seorang Nabi. Heraelius mengundang para pembesar Rome supaya datang ke tempatnya di Hims. Setelah semuanya hadir dalam majlisnya, Heraelius memerintahkan supaya mengunci setiap pintu. Kemudian dia berkata, "Wahai, bangsa Rome! Mahukah Anda semua beroleh kemenangan dan kemajuan yang gilang gemilang, sedangkan kerajaan tetap utuh di tangan kita? Kalau mahu, akuilah Muhammad itu sebagai Nabi!"

Mendengar ucapan itu mereka lari bagaikan keldai melihat keadaan demikian, padahal semua pintu telah terkunci. Heraelius jadi putus harapan yang mereka akan iman (percaya kepada Nabi Muhammad saw.). Lalu diperitahkannya supaya mereka kembali ke tempat mereka masing-masing seraya berkata, "Sesungguhnya saya mengucapkan perkataan saya tadi, hanya sekedar menguji keteguhan hati Anda semua. Kini saya telah melihat keteguhan itu. Lalu mereka sujud di hadapan Heraelius dan mereka senang kepadanya. Demikianlah akhir kisah Heraelius.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Translate